Minggu, 02 November 2014

Tugas II Psikologi Manajeman
A.    Actuating dalam manajemen
1.      Definisi actuating dalam manajemen
Actuating menurut George R. Terry adalah  usaha untuk menempatkan anggota kelompok sedemikian rupa sehingga mereka berkeinginan dan berusaha untuk mencapai sasaran perusahaan yang bersangkutan, oleh karena anggota itu ingin mencapai sasaran tersebut. Sedangkan menurut Prof. Dr. Sondang S. Siagian ia menyatakan bahwa, penggerakan (motivating) adalah keseluruhan proses pemberian motif bekerja kepada para bawahan sedemikian rupa, sehingga mereka mau bekerja dengan ikhlas demi tercapainya tujuan organisasi dengan efisien dan ekonomis.

Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa, actuating merupakan upaya untuk menjalankan perencanaan menjadi kenyataan, dengan cara memotivasi tiap-tiap individu dalam suatu kelompok kearah tercapainya tujuan yang telah ditetapkan.

2.      Pentingnya actuating dalam manajemen
Penggerakan (actuating) merupakan hubungan antara pimpinan yang mengikat bawahannya agar bersedia menyumbangkan tenaganya demi tercapainya tujuan kelompok/organisasi. Fungsi inilah yang menjadikan actuating penting dalam manajemen. Karena tanpa ada pergerakan, tidak akan terjadi perubahan yang ingin dicapai oleh suatu organisasi/ perusahaan tertentu.

3.      Prinsip actuating dalam manajemen
Pada umumnya pimpinan menginginkan pengarahan kepada bawahan dengan maksud agar mereka (yang dipimpin) bersedia untuk bekerja sebaik mungkin. Prinsip-prinsip actuating tersebut menurut Kurniawan (2009) antara lain:
a)      Memperlakukan pegawai dengan sebaik-baiknya.
b)      Mendorong pertumbuhan dan perkembangan manusia.
c)      Menanamkan pada manusia keinginan untuk melebihi.
d)     Menghargai hasil yang baik dan sempurna.
e)      Mengusahakan adanya keadilan tanpa pilih kasih.
f)       Memberikan kesempatan yang tepat dan bantuan yang cukup.
g)      Memberikan dorongan untuk mengembangkan potensi dirinya.

4.      Pentingnya mencapai actuating managerial yang efektif
Penggerakan yang dilakukan dengan efektif memiliki kelebihan, yaitu:
a)      Dapat memperjelas informasi kepada bawahan tentang tujuan yang diinginkan oleh atasan/ perusahaan.
b)      Dapat menimbulkan kerjasama tim yang baik.
c)      Dapat menciptakan hubungan yang erat antara atasan dengan bawahan.
d)     Dapat memperjelas pembagian tugas kerja, sehingga tidak terjadi kesalahan mengambil tugas.

B.     Mengendalikan Fungsi Manajemen

1.      Definisi controling manajemen
     Menurut Robert J. Mockler, pengawasan yaitu usaha sistematik menetapkan standar pelaksanaan dengan tujuan perencanaan, merancang sistem informasi umpan balik, membandingkan kegiatan nyata dengan standar, menentukan dan mengukur deviasi-deviasi dan mengambil tindakan koreksi yang menjamin bahwa semua sumber daya yang dimiliki telah dipergunakan dengan efektif dan efisien. Sedangkan menurut Louis E. Boone dan David L. Kurtz memberikan rumusan tentang pengawasan sebagai “proses dimana seorang manajer memastikan bahwa operasi yang sebenarnya konsisten dengan rencana.

     Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa, Controling merupakan upaya untuk menjalankan pengawasan terhadap kegiatan kerja yang konsisten dengan rencana yang telah ditetapkan sebelumnya.

2.      Langkah-langkah controling manajemen
Langkah-langkah controling manajemen:
a)      Kegiatan yang belum dilaksanakan (Feedforward control)
b)      Kegiatan sedang dilaksanakan (Concurrent control)
c)      Kegiatan telah dilaksanakan (Feedback Control)

3.      Tipe-tipe kontrol dalam manajemen
Tipe tipe pengawasan dapat ditinjau dari tiga segi:
a)      Waktu: maksudnya pengawasan dari segi waktu dapat dilakukan secara preventif dan secara reprensif. Contoh pengawasan preventif ialah perencanaan budget, sedangkan pengawasan reprensif misalnya alat budget dan laporan.
b)      Objektif:  pengawasan dari segi objektif ialah pengawasan terhadap produksi dan sebagainya.
c)      Subjektif: pengawasan dari segi subjektif terdiri dari pengawasan internal dan pengawasan eksternal.

4.      Menjelaskan proses kontrol manajemen
Menurut T. Hani Handoko, terdapat lima tahapan dalam pengawasan:
a)      Penetapan standar pelaksanaan
Tujuannya adalah sebagai sasaran, kuota, dan target pelaksanaan kegiatan yang digunakan sebagai patokan dalam pengambilan keputusan. Contohnya: standar fisik, standar waktu.
b)      Penentuan pengukuran pelaksanaan kegiatan
Digunakan sebagai dasar atas pelaksanaan kegiatan yang dilakukan secara tepat.
c)      Pengukuran pelaksanaan kegiatan nyata
Beberapa proses yang berulang-ulang dan continue, berupa pengamatan laporan, metode, pengujian, dan sampel.
d)     Pembandingan pelaksanaan kegiatan dengan standar dan penganalisaan penyimpangan-penyimpangan
Digunakan untuk mengetahui penyebab terjadinya penyimpangan dan menganalisanya, juga sebagai alat pengambilan keputusan bagi manajer.
e)      Pengambilan tindakan koreksi, bila diperlukan
Bila diketahui dalam pelaksanaannya terjadi penyimpangan, dimana perlu ada perbaikan dalam pelaksanaan.

C.    Kekuasaan Dan Pengaruh
1.      Definisi kekuasaan
·         Menurut Gibson
Kekuasaan adalah Kemampuan seseorang untuk memperoleh seuatu sesuai dengan cara yang dikehendaki.
·         Menurut Miriam Budiardjo
Kemampuan seseorang atau kelompok untuk mempengaruhi tingkah laku orang atau kelompok lain sesuai dengan keinginan dari pelaku.
·         Menurut Ramlan Surbakti
Kekuasaan merupakan kemampuan memengaruhi pihak lain untuk berpikir dan berperilaku sesuai dengan kehendak yang memengaruhi.

     Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa, Kekuasaan merupakan upaya untuk  mempengaruhi tingkah laku orang lain, demi mencapai apa yang di tuju oleh seseorang atau  kelompok.

2.      Sumber-sumber kekuasaan
            Ada 5 sumber kekuasaan menurut John Brench dan Bertram Raven, yaitu :
a)      Kekuasaan menghargai (reward power)
Kekuasaan yang didasarkan pada kemampuan seseorang pemberi pengaruh pengaruh untuk memberi penghargaan pada orang lain yang dipengaruhi untuk melaksanakan perintah. (bonus sampai senioritas atau persahabatan).
b)     Kekuasaan memaksa (coercive power)
Kekuasaan berdasarkan pada kemampuan orang untuk menghukum      orang yang dipengaruhi kalau tidak memenuhi perintah atau persyaratan. (teguran sampai hukuman).
c)      Kekuasaan sah (legitimate power)
Kekuasaan formal yang diperoleh berdasarkan hukum atau aturan yang timbul dari pengakuan seseorang yang dipengaruhi bahwa pemberi pengaruh berhak menggunakan pengaruh sampai pada batas tertentu.
d)     Kekuasaan keahlian (expert power)
Kekuasaan yang didasarkan pada persepsi atau keyakinan bahwa pemberi
Pengaruh mempunyai keahlian relevan atau pengetahuan khusus yang tidak dimiliki oleh orang yang dipengaruhi. (professional atau tenaga ahli).

e)    Kekuasaan rujukan (referent power)
Kekuasaan yang dimiliki oleh seseorang atau kelompok yang didasarkan pada indentifikasi pemberi pengaruh yang menjadi contoh atau panutan bagi yang dipengaruhi. (karisma, keberanian, simpatik dan lain-lain).

3.      Definisi pengaruh
·         Pengaruh menurut KBBI
Adalah daya yang ada atau timbul dari sesuatu (orang atau benda) yang ikut membentuk watak, kepercayaan atau perbuatan seseorang.
·         Pengaruh Menurut Norman Barry
Merupakan suatu tipe kekuasaan yang jika seorang yang dipengaruhi agar bertindak dengan cara tertentu, dapat dikatakan terdorong untuk bertindak demikian, sekalipun ancaman sanksi yang terbuka tidak merupakan motivasi yang mendorongnya.

     Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa, Pengaruh  merupakan upaya untuk menjadikan seseorang mengikuti apa yang menjadi kehendak orang lain atau kelompok, dan juga dapat mempengaruhi watak, kepercayaan atau perbuatan seseorang.

4.      Pengaruh taktik dalam organisasi
      Strategi dan taktik pada dasarnya merupakan  suatu proses untuk mempengaruhi. Dalam hubungannya dengan proses untuk mempengaruhi ini, strategi dan taktik seringkali susah dibedakan dengan proses politik. Proses politis menyangkut usaha-usaha para anggota organisasi untuk meningkatkan kekuasaan mereka  atau melindungi sumber-sumber kekuasaan yang ada (Pfeffer, 1981). Sedangkan Salancik dan Pfeffer (1977a) menunjukkan bahwa proses politis menjelaskan mengapa beberapa pihak mampu untuk mempertahankan kekuasaan  bahkan setelah keahlian mereka tidak lagi kritis bagi organisasi.
     
      Untuk mendapatkan komitmen  atau bahkan kepatuhan terhadap permintaan-permintaan dari jenis yang demikian,  biasanya perlu untuk menggunakan bentuk perilaku mempengaruhi yang lain (proaktif) dan bukannya sebuah permintaan  yang sederhana. Sejumlah studi telah mengidentifikasi kategori-kategori perilaku mempengaruhi yang proaktif, disebut “taktik-taktik mempengaruhi” (Kipnis, Schmidt, & Wilkinson, 1980; Mowday, 1978, Porter, Allen, & Angle, 1981; schilit & Locke, 1982; Yukl & Falber, 1990).

      Jadi, Pengaruh taktik dalam organisasi bisa dikatakan sebagai mempertahankan sesuatu yang harus dipertahankan oleh masing-masing anggota kelompok.